Thursday, January 8, 2026

Bahasa: Jalan Pikiran, Cermin Jiwa, dan Ujian Kejujuran

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Bahasa: Jalan Pikiran, Cermin Jiwa, dan Ujian Kejujuran

Bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah jendela pikiran, cermin jiwa, dan jalan menuju kesadaran. 

Manusia berpikir dengan bahasa, bukan dengan gambar atau suara semata. Ketika kita membaca, kita menyerap struktur dunia. 

Ketika kita menulis, kita menyusun ulang semesta dalam kata-kata. Dan ketika kita berbicara, kita mengungkapkan siapa diri kita sebenarnya.

Bahasa bukan hanya tentang menyampaikan pesan. Ia adalah tentang membentuk makna. Dan makna adalah fondasi dari tindakan, keputusan, dan iman.

 

Berbahasa: Menolong Manusia untuk Berpikir

Tanpa bahasa, pikiran hanyalah kabut. Bahasa memberi bentuk pada gagasan, memberi arah pada logika, dan memberi batas pada emosi. Anak yang tidak diajak berbicara sejak kecil, akan kesulitan berpikir abstrak. 

Orang dewasa yang miskin kosakata, akan miskin dalam menyusun argumen.

Bahasa bukan sekadar kata. Ia adalah struktur berpikir. Maka, ketika kita mengabaikan pentingnya berbahasa, kita sedang membiarkan pikiran kita menjadi liar, kabur, dan mudah dimanipulasi.


baca juga: Siapa Orang yang Gila


Membaca dan Menulis: Jalan Menuju Kesadaran Diri

Membaca adalah mendengar suara orang lain dalam keheningan. Menulis adalah mendengar suara diri sendiri dalam kejujuran. 

Orang yang rajin membaca akan mengenal dunia. Orang yang rajin menulis akan mengenal dirinya.

Tanpa membaca, kita mudah tersesat dalam opini. Tanpa menulis, kita mudah tenggelam dalam emosi. 

Maka, berbahasa bukan hanya soal komunikasi, tapi soal kesadaran: siapa kita, apa yang kita yakini, dan bagaimana kita hidup.


baca juga: Didiklah Mereka Sesuai Tantangan dan Zamannya


Bahasa Ambigu: Ladang Subur bagi Kebohongan

Orang yang berbohong sangat mungkin lemah dalam berbahasa. Mereka tidak mampu menyusun logika yang konsisten, tidak mampu menjawab pertanyaan dengan jernih, dan tidak mampu mempertahankan makna yang utuh. 

Maka mereka memilih jalan pintas: bahasa yang kabur, ambigu, dan penuh celah.

Ironisnya, di zaman sekarang, bahasa ambigu justru diagung-agungkan. Orang yang bicara lugas dianggap kasar. 

Orang yang bicara jujur dianggap tidak diplomatis. Orang yang bicara logis dianggap tidak peka.

Kita hidup di era di mana ketidakjelasan dianggap canggih, dan kejujuran dianggap kuno. Padahal, Tuhan tidak pernah bicara ambigu. Firman-Nya jelas, tajam, dan penuh makna.

“Jika ya katakanlah: ya, tidak katakanlah: tidak. Apa yang lebih dari itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

 

Provokasi untuk Perubahan

Sudah saatnya kita kembali memuliakan bahasa yang jernih. Bahasa yang berpikir. Bahasa yang menyadarkan. Bahasa yang jujur.

Karena bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang banyak bicara, tapi bangsa yang tahu apa yang dibicarakan.

Karena gereja yang hidup bukanlah gereja yang ramai, tapi gereja yang mampu menyusun kata-kata yang membentuk iman.

Karena pemimpin yang bijak bukanlah yang pandai retorika, tapi yang mampu berkata benar meski tidak populer.

Mari kita berhenti memuja ambiguitas. Mari kita mulai membangun budaya bahasa yang logis, jujur, dan penuh kasih. Karena bahasa bukan hanya alat bicara. Ia adalah ujian karakter.


baca juga: Tidak ada Orang yang tidak Berhutang 


“Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah. Dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1)

Banyak orang tidak menyadari bahwa saat di sedang berkata-kata, dia sedang berdoa.


Continue reading Bahasa: Jalan Pikiran, Cermin Jiwa, dan Ujian Kejujuran

Siapa Orang yang Gila?

 

ged pollo

oleh: grefer pollo



Di dunia modern yang penuh seminar motivasi dan kutipan Instagram, kita sering mendengar kalimat ini:

“Orang gila adalah mereka yang mengharapkan hasil berbeda, tapi terus melakukan hal yang sama.”

Kata-kata ini, yang sering dikaitkan dengan Einstein (meski tidak terbukti ia mengucapkannya), telah menjadi semacam liturgi sekuler.

Ia terdengar bijak, provokatif, dan sedikit menyindir. Tapi mari kita gali lebih dalam. Apakah benar orang gila itu hanya mereka yang tidak belajar dari kesalahan? 

Atau ada jenis kegilaan lain yang lebih halus, lebih religius, dan lebih... Ayubiah?


baca juga: Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen


Gila Menurut Dunia: Logika yang Terjebak Pola Lama

Bayangkan seorang petani yang setiap tahun menanam jagung di tanah yang sama, dengan cara yang sama, dan pupuk yang sama meski hasilnya terus menurun. 

Ia berharap panen melimpah, tapi tak pernah mengubah metode. Dunia menyebutnya “gila”. Tapi apakah ia gila, atau hanya setia pada tradisi?

Atau seorang pemimpin gereja yang terus mengadakan rapat tanpa agenda, berharap jemaat makin aktif. Ia tidak gila, ia hanya... optimis berlebihan.

Kegilaan versi dunia adalah ketika harapan tidak sejalan dengan tindakan. Ketika kita ingin hasil baru, tapi tetap memakai pola lama. Dunia menyebutnya tidak rasional. Tuhan mungkin menyebutnya... belum bertobat.


baca juga: Di Rumah yang Kudus tapi Luka


Gila Menurut Ayub: Iman yang Terlalu Selektif

Ayub, sang tokoh penderitaan, pernah berkata kepada istrinya yang menyuruhnya mengutuk Tuhan:

“Apakah kita hanya mau menerima yang baik dari Tuhan, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:10)

Di sini, Ayub menyindir jenis kegilaan yang lebih spiritual: orang yang hanya ingin berkat, tapi menolak proses.

Mereka ingin mujizat, tapi tidak mau sakit. Ingin pengurapan, tapi tidak mau kehancuran ego.
Mereka ingin Tuhan sebagai penyelamat, tapi bukan sebagai penggali akar dosa.

Ayub, dalam penderitaannya, justru menunjukkan kewarasan rohani: menerima Tuhan dalam segala musim.

Sedangkan mereka yang hanya ingin yang baik dari Tuhan, itulah kegilaan yang dibungkus liturgi.

 

Humor Surgawi

Bayangkan Tuhan melihat umat-Nya berdoa agar hujan turun, tapi tidak menyiapkan ladang.
Atau berdoa agar gereja penuh, tapi tidak pernah menyapa tetangga.
Tuhan mungkin berkata, “Anak-Ku, kau bukan gila... hanya terlalu yakin dan lupa bahwa Aku pernah berkata: “Pergi dan beritakanlah Injil…”

Kegilaan rohani adalah ketika kita berharap perubahan tanpa pertobatan.
Ketika kita ingin buah Roh, tapi tetap menyiram akar kedagingan.

Dan mari kita jujur: kadang kita semua sedikit gila. Kita ingin damai, tapi tetap menyimpan dendam.
Kita ingin Tuhan bicara, tapi tidak pernah membuka Alkitab.
Kita ingin hidup baru, tapi tetap tidur di kasur lama dosa.


baca juga: Bersama PemimpinMasa Depan: Refleksi dari Sebuah Kelas


Pikirkan dan Doakan

Jika kegilaan dunia adalah mengulang kesalahan, dan kegilaan Ayub adalah iman yang selektif, maka kewarasan sejati adalah keberanian untuk berubah dan menerima Tuhan secara utuh.

Mari kita ubah doa kita dari:

“Tuhan, beri aku berkat.”

Menjadi:
“Tuhan, bentuk aku agar layak menerima berkat.”

Mari kita ubah tindakan kita dari:

“Aku akan tetap begini, semoga hasilnya beda.”

Menjadi:
“Aku akan berubah, meski hasilnya belum terlihat.”

 

“Jika kamu ingin hasil yang baru, jangan takut menjadi orang yang “aneh” di mata dunia. Karena kadang, yang disebut gila oleh dunia, justru sedang waras di hadapan Tuhan.”


Continue reading Siapa Orang yang Gila?

Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen

 

ged pollo

oleh: grefer pollo


Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen

Dalam dunia kerja, kita sering berjumpa dengan beragam tipe karyawan. 

Setiap tipe membawa konsekuensi berbeda terhadap produktivitas, budaya organisasi, dan arah pertumbuhan. Secara garis besar, ada empat tipe yang bisa kita amati:

1. Karyawan yang tidak tahu apa yang mau dikerjakan

Mereka hadir di kantor, tetapi bingung harus mulai dari mana. Tanpa arahan, mereka cenderung pasif. 

Contohnya seorang staf baru ditempatkan di gudang tanpa penjelasan: ia hanya duduk, tidak tahu apakah harus mulai dari inventaris atau distribusi. Akibatnya, pekerjaan menumpuk.

“The cost of ignorance is far greater than the cost of training.” ("Kerugian akibat ketidaktahuan jauh melampaui biaya pelatihan.")

 

2. Karyawan yang tahu, tetapi bekerja hanya jika disuruh dan diawasi

Mereka memahami tugas, tetapi motivasi eksternal mendominasi. Produktivitas bergantung pada pengawasan. 

Seorang staf administrasi misalnya, tahu cara input data, tetapi hanya melakukannya ketika supervisor datang memeriksa. 

Riset menunjukkan bahwa kontrol berlebihan menurunkan kepuasan kerja dan meningkatkan burnout (keadaan ketika seseorang merasa habis energi: fisik, mental, dan emosional).

 

3. Karyawan yang bekerja tanpa disuruh dan diawasi

Tipe ini mandiri, disiplin, dan menyelesaikan tugas sesuai target. Seorang teknisi yang rutin mengecek mesin setiap pagi tanpa diminta adalah contoh nyata. 

Hasilnya, produksi jarang terganggu. Self‑determination theory menegaskan bahwa otonomi meningkatkan keterlibatan dan kinerja.

Self-Determination Theory (SDT) dalam bahasa Indonesia biasanya disebut “Teori Determinasi Diri”

Teori ini menjelaskan bahwa motivasi manusia muncul secara alami ketika tiga kebutuhan psikologis dasar terpenuhi:

  1. Otonomi merasa punya kendali atas pilihan dan tindakan sendiri.
  2. Kompetensi merasa mampu, berkembang, dan bisa menghadapi tantangan.
  3. Keterhubungan (relatedness) merasa dekat, diterima, dan terhubung dengan orang lain.

 

Dengan kata lain:

  • Orang akan lebih semangat kalau merasa bebas menentukan jalan hidupnya,
  • Merasa jago atau berkembang dalam apa yang dikerjakan,
  • Punya hubungan yang hangat dengan orang lain.

 

Contoh Praktis

  • Di sekolah: siswa lebih rajin belajar kalau setelah dituntun dan diarahkan, diberi kesempatan memilih cara belajar, merasa mampu menguasai materi, dan punya guru/teman yang mendukung.
  • Di pekerjaan: karyawan lebih termotivasi kalau diberi ruang mengambil keputusan, diberi tantangan sesuai kemampuan, dan merasa dihargai dalam tim.

 

4. Karyawan yang bekerja tanpa disuruh dan memberi masukan positif

Inilah tipe paling ideal. Mereka tidak hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga memperbaiki sistem. 

Seorang staf pemasaran melihat data penjualan menurun, lalu menyusun analisis tren dan mengusulkan strategi digital baru. Hasilnya, penjualan naik 20%. 

Harvard Business School menemukan bahwa well‑being (keadaan sejahtera seseorang, mencakup kebahagiaan, kesehatan fisik dan mental, serta kualitas hidup yang baik) dan motivasi intrinsik berkorelasi langsung dengan produktivitas dan inovasi.

“Hire character. Train skill.” – Peter Schutz (= Utamakan karakter saat merekrut, keterampilan bisa diajarkan kemudian).

 

Perbandingan Empat Tipe

Tipe Karyawan

Karakteristik

Dampak

Rekomendasi

1. Tidak tahu

Bingung, pasif

Menghambat tim

Butuh pelatihan intensif

2. Tahu tapi diawasi

Paham tugas, motivasi eksternal

Produktivitas rendah tanpa kontrol

Cocok untuk pekerjaan rutin

3. Mandiri

Bekerja tanpa disuruh

Stabil, efisien

Baik untuk operasional

4. Proaktif & memberi masukan

Mandiri + inovatif

Produktivitas & inovasi tinggi

Pilihan terbaik untuk rekrutmen

 

Pengalaman faktual: Perusahaan teknologi seperti Google dan Zappos menekankan budaya employee voice—karyawan bebas memberi masukan. Hasilnya, inovasi lahir dari bawah, bukan hanya dari pimpinan.

 

Kesimpulan

Jika harus memilih, tipe ke‑4 adalah yang paling strategis untuk direkrut. Mereka bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, tetapi juga menjadi mitra berpikir bagi pimpinan. 

Dalam konteks organisasi kecil maupun besar, tipe ini akan membantu membangun budaya data, inovasi, dan keberlanjutan.

“Motivasi adalah api dalam diri. Jika orang lain harus menyalakan api itu untukmu, maka ia akan padam cepat.” – Stephen R. Covey


Continue reading Empat Tipe Karyawan dan Pilihan Rekrutmen