Banyak orang beranggapan bahwa para murid Yesus hanyalah orang
sederhana, tidak terpelajar, bahkan dianggap bodoh. Namun, pandangan itu
keliru.
Untuk melihat itu lebih dalam, perlu memahami model pendidikan di masa
hidup para murid-murid itu.
Sebagian besar pendidikan di masa Israel kuno terjadi di dalam rumah. Ini dibuktikan dengan pengajaran Musa kepada orang Israel atas perintah Allah seperti yang ada dalam Ulangan 6:4-9.
Tugas-tugas itu menjadi peran orang tua
untuk mengajarkan anak-anak tentang Allah di setiap kesempatan. Pengajaran lain
seperti tentang doa dan perayaan serta menceritakan sejarah Israel (Keluaran
13:14-16). Model pembelajarannya dengan cara menghafal atau mengingat-ingat.
Anak laki-laki pada masa Perjanjian Lama memiliki kesempatan lebih untuk
memperoleh pendidikan yang lebih formal. Contohnya, Samuel dididik oleh imam
Eli (1 Samuel 1:24-26).
Dari belajar di rumah kemudian di sinagoge. Ada yang berpendapat bahwa tujuan
utama dari sinagoge adalah bersifat pengajaran. Pelayanan Yesus di sinagoge
adalah mengajar (Matius 4:23).
Anak laki-laki berusia 5 tahun akan bergabung dalam “rumah baca” (beth
sepher). Di usia 13 tahun melanjutkan
ke “rumah pengajaran” (beth midrash).
Jenjang pendidikan Yahudi
sebagai berikut:
- MIQ'RA (membaca
Taurat) mulai usia 5 tahun
- MISH'NAH mulai
usia 10 tahun
- MITSVOT pada
usia 13 tahun (zaman Yesus 12 tahun, usia Bar Mitsva)
- TALMUD pada
usia 15 tahun
- MID’RASH (level madarasah)
diikuti pada usia 20 tahun
Pada zaman Tuhan Yesus melayani ada 2 Beit Midrash yang terkenal: BEIT
HILEL (House of Hillel) dan BEIT SHAMAY.
Tepat di usia 30 tahun baru mereka boleh mengajar di depan umum.
Sehingga bisa dipastikan bahwa para murid Yesus adalah mereka yang sudah
pernah belajar dan diajar di rumah oleh orang tua mereka dan juga di sinagoge.
Dalam tatanan masyarakat Yahudi saat itu, Yesus dari Nazaret tidak akan disebut seorang "Rabbi" dan diberi kesempatan mengajar
di Bait Allah atau sinagoge jika Dia sendiri tidak pernah melakukan pendidikan
formal tentang Taurat di area di dalam Bait Allah.
Dalam Kisah Para Rasul 4:13 Ketika
sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan
mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak
terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut
Yesus.
Ayat ini sering disalah mengertikan. Banyak orang Kristen sendiri untuk membenarkan. Ketika para pemimpin Yahudi menyebut Petrus dan Yohanes sebagai agrammatoi kai idiōtai (Istilah Yunani agrammatoi kai idiōtai dalam Kisah Para Rasul 4:13 berarti “tidak berpendidikan (agrammatoi) dan orang biasa (idiōtai)”.
Ini bukan sekadar tuduhan bahwa
murid Yesus buta huruf, melainkan penilaian bahwa mereka tidak memiliki
pendidikan formal atau status sosial yang tinggi).
Mereka yang ada di persidangan itu mengukur otoritas berdasarkan
pendidikan formal rabinik yang saat itu ada dua institusi: yaitu BAIT HILLEL
& BEIT SHAMAI. Mereka belum mengenal sesungguhnya bahwa ada satu lagi sekolah
atau Beit Midrash yang dibangun sendiri oleh Sang Rabbi Agung, yaitu Rabbi
YESHUA HAMASIAKH.
Para murid Yesus Kristus dididik sekitar 3,5 tahun berdasarkan proses
pemuridan yang telah dijalani bersama seorang Rabbi Agung, Yesus Kristus.
Ini sebuah modl pendidikan intensif di mana para murid hidup, tingggal,
berjalan, makan, dan minum bersama Yesus Kristus.
Tuhan Yesus sendiri dihormati sebagai Rabbi (Yoh. 3:2; 20:16) oleh kalangan elit keagamaan (misalnya Nikodemus).
Dengan demikian, jika menyebut
para murid sebagai “orang tidak terpelajar” bukanlah penyangkalan atas proses
pembelajaran mereka saja tetapi juga tidak mengakui pemuridan yang Yesus sudah
lakukan terhadap mereka.
Kembali kepada poin di awal tulisan ini bahwa para murid ini orang-orang
yang sudah belajar terlebih dahulu dari Sang Rabi Yesus dari Nazaret. Sehingga,
bagian yang sering disebut sebagai amanat agung dalam Matius 28:19-20:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah
mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Yesus perintahkan untuk mereka mengajarkan berdasarkan apa yang Yesus
sudah pernah ajarkan kepada mereka.
Amanat ini bukan sekadar perintah, melainkan mandat untuk melanjutkan
kurikulum surgawi yang telah mereka terima. Mereka tidak diutus dengan tangan
kosong. Setelah pengajaran, mereka menerima Roh Kudus, sesuai janji Yesus:
“Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam
nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan
mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yohanes 14:26).
Roh Kudus menjadi pengingat, pengajar, dan penolong, memastikan bahwa
apa yang Yesus tanamkan tidak hilang, melainkan terus hidup dalam hati dan
pikiran mereka.
Karena itu, bagaimana mungkin seorang pelayan firman masa kini entah itu presbiter, pendeta, maupun pengajar Alkitab, berani berdiri di mimbar tanpa terlebih dahulu belajar sungguh-sungguh, berdoa, berpuasa, bergumul dengan Roh Kudus, dan tekun dalam pemahaman Alkitab?
Memberitakan firman bukanlah sekadar
berbicara, melainkan melanjutkan tradisi pengajaran Yesus yang penuh kuasa dan
kebenaran.
Roh Kudus bekerja di dalam hati dan pikiran mereka yang sudah pernah
menerima pengajaran firman Allah sebelumnya.
Pelayanan firman menuntut disiplin rohani dan intelektual. Sama seperti para murid yang ditempa oleh
Yesus dan diingatkan oleh Roh Kudus, demikian pula setiap pelayan masa kini
harus mempersiapkan diri dengan serius. Tanpa itu, khotbah hanya menjadi
kata-kata kosong, bukan firman yang hidup.
Murid Yesus adalah teladan bahwa belajar, doa, dan bergumul dengan Roh
Kudus adalah fondasi pelayanan. Firman yang diberitakan harus lahir dari hati
yang ditempa, pikiran yang dipenuhi pengajaran Kristus, dan roh yang digerakkan
oleh Roh Kudus.
baca juga: Ketika Alam Bicara,Manusia Harus Mendengar
Amin! Terima kasih
ReplyDeleteTerima kasih. Amin
DeleteIni menjawab rasa penasaranku slama ini, kenapa murid2x langsung mau ketika diajak mengikuti Yesus.. ternyata karena Yesus menyelenggarakan "sekolah" pada saat itu dan murid2x ingin belajar dan menuntut ilmu dari Yesus Sang Rabbi. Terimakasih penulis atas penjelasannya.. Tuhan berkati..
ReplyDeleteAmin. Tuhan Yesus berkati. Terima kasih respon dan poin yang sudah didapat dan dijadikan inspirasi baik.
DeleteAmin...👍🙏😇
ReplyDelete