Tuesday, May 5, 2020

,

Gelora Pendidikan


mau dibawa ke mana

oleh: Grefer Pollo, S.P., M.Pd

Pendidikan di Indonesia sedang menghadapi tantangan besar. Para guru mengeluhkan kesejahteraan mereka yang kurang diperhatikan. Para prangtua mengeluhkan perilaku anak-anak mereka dan biaya pendidikan yang makin tinggi, jumlah sekolah makin bertambah tetapi biaya sekolah makin mahal. Keluhan dari siswa mengenai kurang relevannya materi yang dipelajari dengan kenyataan sehari-hari. Keluhan dari para pemilik perusahaan mengenai kurang berkualitasnya kompetensi para pencari kerja. Keluhan dari banyak orang mengenai cepatnya perubahan teknologi digital yang sulit dijangkau dan dipergunakan oleh para pengguna teknologi. Ya, keluhan ada di mana-mana. Lalu, apa korelasi dari keluhan ini dengan pendidikan?
Pendidikan memiliki makna penting terhadap kehidupan. Rasa-rasanya, tanpa pendidikan hidup seperti daam rumah tanpa pintu dan jendela, atau kehidupan seperti di malam gelap gulita. Mungkin karena itulah, maka R.A Kartini mengatakan Habis Gelap Terbitlah Terang dan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, Ki Hadjar Dewantara, mengatakan, pendidikan mesti menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak sehingga sebagai manusia dan anggota masyarakat, mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

Di dalam hal ini, pendidikan tidak terlepas dari kebudayaan. Kebudayaan memiliki makna mengusahakan sesuatu dalam diri manusia. Dengan demikian, mengembangkan kebudayaan membutuhkan pendidikan, dan pendidikan yang baik akan mengasilkan kebudayaan yang baik pula (https://www.silabus.web.id/pendidikan-dan-kebudayaan-menurut-ki-hajar-dewantara/. Diakses 2 Mei 2020). Badan khusus PBB, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), mencetuskan model empat pilar pendidikan untuk menyongsong abad 21 yakni: (1) Learning to how (belajar untuk mengetahui); (2) Learning to do (belajar untuk melakukan); (3) Learning to be (belajar untuk mengaktualisasikan diri sebagai individu mandiri yang berkepribadian); dan (4) Learning to live together (belajar untuk hidup bersama) (https://www.researchgate.net/publication/330761018_Revisiting_UNESCO_Four_Pillars_of_Education_and_its_Implications_for_the_21st_Century_Teaching_and_Learning. Diakses 2 Mei 2020), dan PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) pada 100 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, yakni pada tanggal 25 NOvember 1945 mencanangkan arah gerakan mereka dengan membawa semangat:
1.  memepertahankan dan menyempurnakan Republik Indonesia;
2.  mempertinggi tingkat pendidikan dan pengajaran sesuai dengan dasar-dasar kerakyatan;
3.  membela hak dan nasib buruh umumnya, guru pada khususnya.
(http://pgri.or.id/sejarah-pgri/. Diakses 2 Mei 2020)

Semua hal ini memberi keyakinan kuat bahwa pendidikan menjadi jalan yang paling tepat untuk mengubah kehidupan dan membawanya ke tempat yang seharusnya melalui perubahan cara dan pola berpikir seseorang, perubahan cara pandang seseorang. Jika pola berpikir berubah, maka cara pandang akan berubah. Jika cara pandang berubah, maka perkataan dan tindakan akan berubah. Jika perkataan dan tindakan berubah, maka kebiasaan akan berubah. Jika kebiasaan berubah, maka karakter akan berubah. Kebiasaan dan karakter akan melahirkan budaya dan kebudayaan manusia. Dengan demikian, pendidikan memberi dampak terhadap kebudayaan dan kebudayaan itu sendiri akan memberi kontribusi besar terhadap pendidikan. Jadi, dapat dipastikan bahwa apa yang manusia dapat kerjakan merupakan hasil dari didikan dan pendidikan yang telah dia terima.
Dampak covid-19 telah mengubah tatanan dan wajah dunia termasuk pendidikan. Perubahan ini telah menjadi sebuah tantangan atau hambatan atau bahaya besar, namun, di sisi lain, juga menjadi sebuah batu loncatan. Covid-19 bergerak begitu cepat. Baru terjadi di akhir tahun 2019 di kota Wuhan cina, namun memasuki tahun 2020 telah menjalar ke seluruh dunia. Lebih dari 200 negara telah terdampak. Virus yang telah bermutasi ini sekarang masih sulit teratasi. Dalam menghadapi virus yang bermutasi, manusia harus mampu beradaptasi. Dampak dari covid-19 yang penyebaran sangat cepat, mendunia sehingga menjadi sebuah pandemic adalah tidak boleh ada kerumunan orang atau kegiatan yang mengumpulka banyak orang, sehingga seluruha aktivitas dilakukan dari rumah. Ibadah dari rumah. Kerja dari rumah. Belajar dari rumah. Dalam situasi seperti ini, teknologi memiliki peranan yang sangat penting. Orang yang tidak menguasai teknologi akan sangat sulit menyesuaikan diri dengan situasi seperti ini. Di sinilah letak masalahnya. Belum semua masyarakat Indonesia melek teknologi. Kebanyakannya gagap teknologi. Banyak guru, siswa, orangtua demikian adanya. Belum lagi ditambah dengan masih kurangnya jaringan internet di berbagai daerah di Indonesia. Masih ada daerah-daerah yang belum dijamah listrik dan jaringan internet. Ada juga yang sudah ada listrik dan jaringan internet tetapi masih 2G dan 3G. dalam situasi seperti ini inovasi dan kreativitas harus berperan penting. Guru dan orangtua bahkan pemerintah harus dapat berkreasi.
Apa yang terjadi pada waktu belakangan ini telah memaksa manusia untuk melek teknologi dan mengubah cara hidup dan kebiasaan yang pada akhirnya akan mengubah budayanya. Semua berada di rumah, itu artinya, untuk berkomunikasi membutuhkan teknologi digital dan kreativitas tersendiri. Kreativitas membutuhkan keberanian mengambil keputusan dan berpikir dengan cara tertentu (think out of the box), berpikir dengan cara tidak seperti biasanya. Menjadi seorang yang kreatif sebenarnya dapat dimulai dari sekolah dan bahkan rumah itu sendiri. Namun, yang menjadi kendalanya adalah pendidikan kita baik di rumah maupun di sekolah sudah terlalu terbiasa dengan sesuatu yang bersifat urutan atau tahapan, padahal, otak manusia dapat bekerja tanpa mengikuti tahapan yang ada. Misalnya, kecenderungan banyak orangtua dan pendidik berpikir mengikuti cara berpikir taksonomi Bloom, yakni mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis, mengevaluasi, mencipta, namun apakah otak dan emosi manusia bekerja hanya menurut urutan ini? Bisakah seseorang menganalisa sesuatu tanpa memahami sesuatu itu sebelumnya? Bagaimana jika insting atau naluri manusia ikut terlibat di dalamnya? Apakah naluri manusia bekerja jika sudah harus mengetahui atau memahami atau menerapkan sesuatu sebelumnya dulu? Sebenarnya, pendidikan di sekolah dan di rumah akan menghasilkan sebuah tahapan manusia atau seorang manusia yang seutuhnya? Inilah keunikan manusia yang bersifat holistis.
Di tengah kebutuhan informsai dan komunikasi yang mendesak ini, tantangan bagi pemerintah adalah memastikan jaringan internet dan teknologi digital bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat di manapun berada. Sedangkan, tantangan bagi dunia pendidikan adalah menyesuaikan diri dengan dampak covid-19 sambil tetap mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas pendidikan dan menghasilkan lulusan yang mampu mengkreasikan teknologi informasi dan komunikasi yang ramah lingkungan, ramah usia, ramah geografis atau wilayah, dan ramah etika.

2 comments: