Friday, May 1, 2020

Menulislah, (dan) Lihatlah Bukumu


menulsilah dan lihatlah bukumu
Menulis adalah menyusun huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf, dan paragraf yang tersusun membentuk sebuah makna. Untuk menyusun huruf menjadi kata bisa jadi banyak orang dapat melakukannya dengan mudah. Namun, bagaimana jika untuk sampai di bagian akhir, tulisan yang mempunyai makna? Sampai di sini, mungkin beberapa dari Anda pernah memiliki alasan: (1) tulisanku jelek, tidak ada orang yang mau membacanya (2) kehabisan topik, tidak ada topik yang baru untuk ditulis, (3) tema seperti ini sudah banyak yang menulisnya, (4) aku sibuk, taka da waktu luang untuk menulis, (5) aku seperti sedang tersesat di pikiranku dan tidak tahu harus mulai dari mana, (6) aku sedang lelah, kapan-kapan baru aku menulis, (7) jika kamu berikan aku ide, maka aku akan menuliskannya.

Namun, di sisi lain, ada sebagian orang yang terus menulis karena memiliki alasan: (1) karena mereka suka membaca, mereka senang menulis. Menulis membuat wawasan mereka terus bertambah, (2) karena mereka sangat berbhagia dan menikmati waktu yang lama dan betah di depan laptop, atau kertas menulis mereka, (3) karena dengan menulis wawasan bertambah sehingga mereka memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik karena kosa kata bertambah, dan (4) kehidupan menjadi lebih produktif

Jumat, 1 Mei 2020 adalah hari libur. Para buruh memperingati hari mereka. Tidak ada demonstrasi buruh seperti tahun-tahun sebelumnya karena anjuran pemerintah untuk #stayathome mengingat pandemic covid-19. Namun, meski libur, bertepatan juga dengan kerja dari rumah, beribadah dari rumah, belajar dari, kelas menulis online via WA tetap berjalan hari ini.  Pukul 13.00-15.00 WIB, kelas dimulai. Bapak Wijaya Kusumah yang kerab disapa Omjay, telah mengundang Bapak Dadang Kadarusman menjadi narasumber untuk membawakan tema MENULIS SETIAP HARI dan MENERBITKAN BUKU. Bapak Dadang Kadarusman adalah seorang author, trainer dan public speaker. Beliau menyelesaikan studi di Bandung ITB. Beliau juga adalah seorang Executive Developmen Progran (EDP), Executive Developmen Progran (EDP), Asian Intitute Of Management (AIM) dan Harvard manage mentor  Program (HMM), Proffesional experience dan Proffesional achievement.


Mengenal Pak Dadang
Kira-kira pukul 14.03 WIB Omjay memberitahukan semua peserta bahwa siang ini, Bapak Dadang akan membagikan pengetahuan dan pengalamannya yang luar biasa kepada seluruh peserta. Omjay lalu mempercayakan jalannya kelas kepada Pak Bambang yang akan menjadi moderatornya. Dua belas menit kemudian, Pak Dadang hadir menyapa seluruh peserta dan berterima kasih kepada Omjay Omjay  yang telah berbaik hati mengajak beliau untuk ambil bagian dalam program pelatihan ini dan memperkenalkan dirinya.

motivasi menulis dan terbitkan buku

motivasi menulis dan terbitkan buku

Pak Dadang mengawali kuliahnya dengan mengisahkan bahwa ayahnya adalah seorang guru sekolah dasar dan sering membawa buku-buku bacaan. Dari situ, beliau lalu suka membaca dan kemudian sangat berkeinginan untuk menjadi seorang penulis, maka sejak kecil mulailah beliau belajar menulis. Satu hal luar biasa yang beliau syukuri bahwa sejak kecil sampai hari ini, Allah terus beri kekuatan kepadanya untuk terus menulis.

Dengan berharap bahwa meski terbatasnya ilmu yang beliau miliki ini, semoga bisa menjadi referensi baik bagi para peserta, beliau menitipkan tautan www.dadangkadarusman.com, seandainya ada peseerta yang ingin mengenal beliau lebih dekat lagi.

Penerbit (akan) Mencari Penulis
Banyak penulis yang memiliki kecemasan tersendiri dan pertanyaan besar adalah setelah tulisan atau buku mereka sudah jadi bagaimana menerbitkannya. Cara menerbitkan buku adalah kekuatiran penulis. namun, hal ini perlu diperbaiki. mengapa? Jika 20 tahun lalu menerbitkan buku itu sangat susah, bahkan banyak buku yang ditolak untuk diterbitkan oleh penerbit, maka pada saat ini, keadaan itu terbalik. Menerbitkan buku itu sangat mudah sekali.

Ya, tantangan pada masa kini bukanlah menerbitkan buku, tetapi menulis setiap hari. Menulsi setiap hari akan menuntun seprang penulis untuk samapia di titik kualitas dalam tulisan, dan itulah yang akan menarik minta penerbit untuk menerbitkan buku tersebut. Jika demikian, bukan lagi penulis yang mendatangi penerbit, tetapi sebaliknya. Penerbitlah yang akan mendatangi bahkan mencari penulis.
Kebanyakan dari buku-buku Pak Dadang adalah hasil dari kebalikan situasi di atas, yakni penerbit yang datang dan menwarkan untuk menerbitkan naskahnya.
Jika demikian, bolanya ada pada penulis, mau menerbitkan atau tidak. Sekali lagi, jika skill menulis telah terbentuk sesuai dengan keinginan penerbit, maka penerbit akan mendatangi penulis. Karena itu, sangat perlu dan harus, menulis setiap hari unutk membentuk skiil yang dicari oleh penerbit.


Sekarang, bagaimana seseorang agar bisa menulis setiap hari? Menulis setiap hari butuh keahlian dan butuh trik. Bagi banyak orang, menulis setiap hari itu surprise sekali. Ada orang yang sudah terbitkan buku tetapi tidak bisa menulis setiap hari. Bahkan ada orang yang menerbitkan buku, namun itu bukan hasil tulisan mereka. Mereka memberikan pemikirannya dan orang lain yang menulis (ghost writer?). Ghost Writer ini sesuatu yang cukup lumrah  terjadi, yakni seorang penulis profesional yang jasanya dipakai untuk menulis pesanan, misalnya buku. Namun, hak cipta karya itu bukan milik penulis tetapi yang menyuruhnya. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah jika seseorang hanya fokus pada menerbitkan buku maka dia mungkin hanya akan menerbitkan buku sekali atau dua kali saja. Kecuali jika dia melatih untuk menuliskan buku tiap hari.

Selain itu, menulis setiap hari itu membantu menjaga keselarasan antara otot-otot tubuh dan jiwa. Jika keselarasan itu terjadi, maka kebiasaan menulis yang terbentuk akan menggerakan seseorang untuk ketika melihat dan merasakan apapun, selalu ingin menerjemahkannya ke dalam bentuk tulisan. Luar biasanya hal itu terjadi seperti sebuah refleks. Kebiasaan menulis ini juga bisa menolong orang yang tipenya pemendam rasa untuk menuangkannya ke dalam tulisan. Ini sangat baik bagi kesehatan mental dan psikologi seseorang. Karena itu, menuis bisa menjadi sebuah healing remedy.
Masa sekarang fasilitas sudah sangat membantu. Jika dulu hanya bisa menulis di kertas, tetapi beda dengan sekarang dapat menulis di smartphone.
Menulislah setiap hari dan jadilah penerbit bagi diri sendiri. Seorang penerbit buku sejati, bukanlah orang yang meminta bantuan orang lain untuk menuliskan naskah bukunya, melainkan orang yang memiliki kemampuan untuk menuliskan sendiri naskahnya secara mandiri

Asahlah Komitmen Anda
Bangunlah komitmen menulis dengan tiada hari tanpa menulis. Jangan melewatkan 1 hari pun dalam hidup kita tanpa menulis. Ini akan membentuk kepribadian yang handal dalam menulis dengan menghasilkan tulisan yang berkualitas. Bagi Pak Dadang, 1 hari 1 artikel. Bagi seorang penulis pemula bukanlah hal yang mudah untuk menuangkan gagasan secara indah dengan jumlah kata yang ditentukan. Karena itu, gunakanlah format artikel. Apakah artikel yang dimaksud itu? Artikel adalah sebuah paparan yang memuat buah pikiran penulis sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Dalam 1 hari, buatah sebuah tulisan yang jika dibaca orang lain, mereka akan memahaminya.

Bagi penukis pemula ada ketakutan jika tulisannya tidak dibaca oleh orang lain. Hal itu bisa membuat mereka jadi rendah diri. Namun, justru ditahap belajar ini, sebaiknya kita tidak terlalu baper soal ada yang baca atau tidak. Mengapa? Sebab, jika orang lain membaca pun belum tentu mereka memberikan umpan balik yang positif. Pada kenyataannya, banyak penulis pemula berhenti menulis karena menerima umpan balik negatif. Teruslah menulis. Jika tulisan yang ditulis sudah memenuhi standar maka pastilah aka nada yang membacanya.

WHAT makes you write something?
Apa yang membuat Anda menulis sesuatu? Jika pertanyaan ini tidak mendapatkan jawabannya, maka seseorsng tidak akan menulis lagi atau berhenti di tengah jalan. Pada kenyataannya, ada orang yang menulis karena uang. Pak Dadang pernah ada di titik itu ketika membutuhkan uang untuk biaya sekolah. Tetapi, justru lebih banyak gagalnya dari pada berhasil. Lebih banyak naskah yang dikembalikan redaksi daripada diterbitkan. Setelah merefelksikan hal ini maka Pak Dadang menemukan bahwa mendapatkan uang bukanlah nilai pribadinya. Sampai hari ini, beliau menulis bukan karena uang. Ini bukan berarti tidak boleh menulis karena uang. Bisa saja. Tetapi, akan dating waktunya seseorang akan menyadari bahwa itu bukan alasan utamanya. Di sisi lain, ada orang yang menulis karena ingin berbagi pengetahuan. Di sinilah posisi Pak Dadang kini, dan ini cocok bagi para pendidik yang memiliki jiwa mendidik.

Menemukan Ide
Menulis setiap hari pastilah membutuhkan ide setiap hari juga. Idenya bisa didapatkan dari apapun yang dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, timbul dalam perasaan, dan sebagainya. Semua itu tinggal menunggu olahan saja. Setiap hari ada banyak hal yang ditangkap dan diraih oleh semua panca indera dan jumlahnya tak terhingga. Artinya, sumber menukisnya tiada terbatas.

Seperti biasa, sesi kuliah akan diisi dengan tanya jawab untuk memperkaya pengetahuan peserta kulaih. Berikut beberapa petikannya.


Pertanyaan
Selamat siang
Saya Dwi Mulyanti
Dr SMKN 1 Kademangan Kab. Blitar
Pertanyaan saya
1.      Berapa lama pengalaman bapak mengasah menulis hingga akhirnya dipercaya oleh penerbit seperti sekarang ini?
2.      Sebagai permulaan, Seperti apa strategi dan Tips memilih penerbit yang sesuai dengan buku yang akan kita terbitkan?
Jawaban
Baik Bu Dwi. Saya mulai menulis sejak SD, aktif sekali SMP sampai ikut lomba-lomba. Berarti sudah sekitar 40 tahun menulis. 1. Kapan mulai dipercaya oleh penerbit? Sekitar 10 tahun lalu. Jadi butuh 30 tahun perjalanan terlebih dahulu. Tapi, ada tapinya. Kondisi saya dulu beda dengan sekarang. Dulu, penerbit hanya sedikit. Dan mereka punya bargaining power yang sangat tinggi. Maka mereka sulit ditembus. Sekarang, ada Sangat banyak penerbit. bahkan menerbitkan sendiri pun bisa. Sehingga Bu Dwi tidak butuh waktu selama saya untuk diercaya penerbit. #2. Kalau kita masih pemula, sebaiknya tidak usah menerapkan terlalu banyak kriteria penerbit. Karena kita yang masih pemula butuh mereka kan ya. Strateginya paling gampang adalah; Ibu terus ikut kursus menulis seperti ini, lalu bikin naskah sambil konsultasi terus dengan penyelangara. Omjay, misalnya. Saya yakin beliau bisa menghubungkan kita dengan penerbit. Jadi ininya seperti saya jelaskan diawal; Fokus dulu kepada proses mengasah skill menulisnya saja. Lalu biarkan hasil karyawa ibu berseliweran diruang publik. Nanti, bakal seperti bakal jadi seperti lampu yang menarik perhatian para laron.

Pertanyaan
Saya Syukri dari padang mau tanya sama bang deka, yang pertama,nulis setiap hari kalau dipaksakan mungkin bisa ya bang. Tapi tentang Themanya apakah harus terstruktur atau bagaimana bang. Yang kedua berapa banyak kah kita harus nulis per hatinya? . Yang ketiga untuk masa berapa lama tulisan trsebut kita kumpulkan?. Makasih atas jawabannya bang deka.
Jawaban
Baik Pak Syukri. Betul pak, kalau dipaksa bisa. Tapi, 'paksaan' adalah sebuah proses yang efektif untuk mendisiplinan seorang pembelajar yang belum memiliki 'refleks menulis' sendiri. Saya misalnya, sudah mulai menulis sejak SD. Tapi menulis setiap harinya barus setelah bekerja dibisa HR. Bahkan bagi yang sudah biasa menulispun butuh dipaksa.
1.      Mengenai Thema, dalam tahap belajar; TIDAK USAH KHAWATIR SOAL TEMA dan sistematika penulisan. Pokoknya nulis saja. Tidak usah takut salah. toh ini bukan UN kan? Kalau saya bicara dengan penulis yang sudah pro, saya menuntut mereka hasil karya yang pro. Tapi, bagi pembelajar, yang terpenting adalah; kemauan untuk terus praktek menulis. Lalu, bersedia mendengar masukan dari orang lain untuk perbaikannya
2.      berapa banyak perhari? Targetkan 1 karya tulis. Sepanjang apa? Berapa kata? Bebas. yang penting, karya tulis itu bisa menampung buah pikiran sehingga pembaca mengerti. Contoh,. jika kita ingin menulis dengan tema "PANTANG MENYERAH" misalnya. Tulisan bapak tidak usah 1000 kata. Cukup 2 atau 3 paragraf saja. Lalu, minta orang lain baca. Jika mereka bisa menerima atau mengerti ide yang ingin bapak sampaikan, berarti tulisan itu sudah menjadi 1 artikel. Nanti, panjang dan bobot tulisannya pelan-pelan ditingkatkan
3.      Tidak ada standar berapa lama masa pengumpulan. kecuali jika bapak punya kontrak dengan penerbit. Misalnya disepakati dalam 2 bulan naskah harus selesai. Kalau bapak menulis untuk tujuan lain, maka waktunya bisa beda lagi

Pertanyaan
Nama saya Heni Ekawati, S.Pd, M. Pd, Asal sy dr Aceh,,sy betugas di SLB. B YPAC BANDA ACEH
Sy ingin bertanya pak,,dari mana awalnya sy bercerita yang saya ingin menuliskan tentang kisah Anak Istimewa yaitu Dunia Tanpa Suara....
Jawaban
Pak Dadang: Itu topik yang keren.
Dari kalimat "DUNIA TANPA SUARA" saja sudah mengundang pertanyaan orang. "Apaan sih maksudnya?" Saya contohkan ya. Saya akan memulai sebuah tulisan dengan tema itu. nanti bisa ibu lihat bagaimana mengawali tulisannya. Paragraf 1: Hey kamu. Pernahkah kamu membayangkan bagimana seandainya tidak seorang pun bersuara didunia ini. Tentu akan sepi sekali harimu kan? Tapi. bisakah kamu membayangkan seandainya hal itu benar-benar terjadi? Sekarang. Coba pejamkan matamu. Lalu bayangkan. Andai saja tak segencring suara pun tertangkap pendengaranmu.
Sekarang, bisakan Ibu Heni lajutkan?
Silakan bu Heni lanjutkan dengan tulisan sendiri. Dan saya akan melanjutkan dengan tulisan saya
Ibu Heni: Eh, tapi. menurut kamu. Apakah mungkin telingamu benar-benar tidak bisa mendengat bahkan sekedar bunyi 'ting' pun? Nggak ya. Nggak mungkin kamu nggak dengar bunyi anakku. Tahu kenapa? Karena ketahuilah sayang, bahwa Allah sayang banget sama kamu. Sehingga engkau bisa mendengar berbagai macam suara.
Paragraf 2 tuch.
Pak Dadang: Bu Heni lanjutkan punyamu ya.
paragraf terakhir saya begini: Nak. Kamu sudah bersyukurkah dengan karunia indah itu? Karena ada loh, di desa sebelah. Seorang gadis yang tidak seberuntung kamu, sayang. Tapi sejak lahir sampai usianya yang menginjak 15 itu, tidak pernah mendengar apapun ditelinganya selain hening semata. Hebbbatnya..., gadis itu tidak pernah mengeluh nak. Tidak pernah pula sekalipun dia bersedih. Pokoknyaaa... a-... aaapa ya. Ehm, ibu...ibu kehabisan kata-kata untuk menjelaskan kemulian dirinya dibalik heningnya dunianya. Jika kamu tidak keberatan, sayang. Bolehkan Ibu mencari tahu lebih banyak tentangnya dan menceritakan kisah indah tentang gadis itu kepada hari Jumat nanti? Sudah sampai pesannya nggak dengan 3 paragraf itu? Minimal ada 1 gagasan yang sudah sampai kepada pembaca. Dan diujung ceritanya, ada 'komitmen' untuk melanjutkan. Kesimpulan: orang bilang memulai itu sulit sekali. kalau saya bilang: MULAI SAJA SARI SEBUAH KATA yang terlintas dalam pikiran Ibu. Insya Allah. nanti akan mengalir dengan sendirinya. Dan kalau saya, biasanya sebelum menulis bilang begini: Ya Allah, apa yang saya harus tuliskan hari ini? Bimbing saya ya Allah ya.

Pertanyaan
Pak Dadang.saya baru tahu adanya Gosh writter itu.tapi saya ingin menerbitkan buku itu klo hasil dari tulisan saya sendiri. yang menjadi hambatan saya selalu ga pede ketika ingin mulai menulis, seakan ide itu hilang.bagaimana caranya supaya tetap semangat untuk bisa menulis dan supaya ide itu ga hilang.
Eti Haryati dari Bogor
Jawaban
Keren.
Ijinkan saya menambahkan bahwa menggunakan jasa "GHOSTWRITER" itu bukan hal yang buruk ya. Tapi itu cocoknya hanya untuk mereka yang hanya ingin menerbitkan buku. kalau kita kan ingin menjadi penulis terampil, maka itu bukan opsi yang tepat buat kita. Mengenai tidak pede. Itulah sebabnya tadi saya sampaikan bahwa dalam proses latihan menulis, kita tidak perlu terikat dengan target berapa jumlah kata. kan di sekolah dulu ada pelajaran mengarang ya. bu gurunya bilang panjang tulisan minimal 1500 kata. Widiiih, bagi pemula mah pusing banget. Jadi nyantai aja. Dan tadi kita bahas juga tentang,  tidak usah baperan dengan respon orang terhadap kualitas tulisan kita. Kita cuek maksudnya? Bukan. Tapi, kita harus menerima diri sendiri sebagai orang yang baru belajar. Jadi, kalau pun tulisan kita 'tidak laku' ya nggak apa-apa. Kan baru belajar. Latih terus aja. Bikin tulisan terus. Kalau belum berani menunjukkan tulisan itu pada orang lain, biarin aja jadi koleksi pribadi kita. Sambil terus memperbaiki tekniknya. Nanti kalau sudah ada tulisan yang 'layak' dicobain ke orang lain, tunjukkan saja. kalau bisa, pilih orang yang tidak akan bersikap negatif. Kesimpulan: Banyak orang tidak pede saat mau menuangkan gagasan lewat tulisan. Saya bilang, hey boleh jadi seseorang sedang menanti buah pikiran mu untuk dibacanya dengan penuh kekaguman. So menulislah.

Pertanyaan
Maaf Om DK, dalam menulis sebuah buku apakah kita menentukan judul baru menulis artikel2 yg berkaitan dgn judul atau kita menulis artikel2 dulu baru diberi judul utk menjadi sebuah buku?
Agus Purwadi, Ponjong
Jawaban
Baik pak Agus.
Dulu buku saya yang judulnya "OUTSHINE" diberi judul duluan. Naskahnya ditulis belakangan. Sedangkan buku "KETIKA SEMUT DAN GAJAH BEKERJA" ditulis naskahnya duluan. Jadi, tidak ada keharusan menulis judul dulu atau naskah duluan.

Pertanyaan
Saya coba menulis di kompasiana namun yang membacanya tidak begitu banyak, Apakah tulisan-tulisan itu bisa di jadikan buku kompilasi ?
Isar Daduki
Jawaban
Nah, pak Isar. Kalau sebuah tulisan sedikit yang baca, TIDAK BERARTI tulisannya tidak bagus. Bisa saja tempat penayangannya yang kurang tepat. Tulisan-tulisan bapak bisa dibuat kompolasi
Kalau ketemu audiens yang tepat, tentu akan banyak yang membacanya
Pertanyaan
Sangat menarik Om Deka. Bgm menjaga keistiqomahan menulis setiap hari? Sebab bagi sy kdg semangat menulis, kdg luruh semangatnya. Terima kasih.
Isminatun, Sukoharjo
Bu Isminatun.
Jawaban
itulah pentingnya menemukan WHAT MAKES YOU WRITE yang tadi kita bahas. Karena hal itu akan menentukan tingkat istiqomah kita. Tapi jawabat dari WHAT tadi sifat individual. Kalau kita menulis karena uang, maka bakal berhenti ketika hasil karyawa kita nggak jadi uang banyak. Tapi kalau kita punya alasan yang lebih tinggi lebih mulia lebih bernilai Insya Allah akan istiqomah. Saya, misalnya. Sekarang menulis lebih karena ingin agar Allah mengajari saya sesuatu. lalu yang Allah ajarkan itu saya bagikan kepada orang lain.
Dengan itu, maka saya selalu tanya; Ya Allah, hari ini saya bisa belajar apa?
Dapat jawabannya. Dituliskan. lalu dibagikan. Makanya sekarang saya justru lebih tertarik untuk menulis artikel setiap hari kemudian diberikan secara free daripada memikirkan menerbitkan buku. Dengan demikian, maka gagasan saya bisa lebih cepat sampai kepada orang lain


Penutup
Ibarat cinta, seseorang mudah saja jatuh cinta karena dorongan rasa, namun dia hanya akan membangun cinta itu dengan komitmen. Menulis setiap hari bisa saja dimulai dengan cita-cita, impian, dorongan, gairah, semangat yang menggebu-gebu ingin memiliki buku, namun tanpa komitmen yang kuat semua itu hanya akan menjadi khayalan. Menulislah sesuai dengan apa yang Tuhan taruh dalam hati Anda untuk anda nikmati, lalu bagikan kepada orang lain. Jadi, kasihilah diri Anda melalui tulisan, dan bagikanlah tulisan itu kepada orang lain sebagai bukti Anda mengasihi mereka, serta kembalikan segala kemuliaan hanya bagi Tuhan. Menulislah (dan) lihatah bukumu.


motivasi menulis dan terbitkan buku

motivasi menulis dan terbitkan buku

Resume Belajar Menulis Online Gel 7
Bersama Bapak Dadang Kadarusman
1 Mei 2020

Penulis: Grefer E. D. Pollo, dari  SDH Kupang Prov. NTT, Blog: halobelajarsesuatu.blogspot.com, Email: greferedominggu.pollo@gmail.com, IG: ged.pollo

8 comments: